Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Alawi Ghurgani, selasa (4/12) dalam pertemuannya dengan para petinggi dan staf Pasukan Garda Revolusi Islam menyatakan, "Nabi Muhammad saw adalah suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Beliau mengajak dan berdakwah kepada umat manusia menuju Tuhan dengan perbuatan, perkataan dan amal yang menakjubkan."
Ulama marja taklid tersebut kemudian menyinggung sebagian dari pendakwah hanya mengajak dengan perkataan namun mereka sendiri tidak mengamalkannya. "Sebagian da'i pandai dalam berbicara, pilihan kata-katanya bagus, namun ketika tidak memberikan perhatian sepenuhnya pada pengamalannya. Dari dia tidak tampak amal yang baik. Sementara para Aimmah as menegaskan pentingnya ilmu berbarengan dengan amal." Ucap beliau.
Ruhaniawan dalam pandangan ulama Iran ini adalah sebagai penegak amar ma'ruf dan nahi mungkar. Beliau berkata, "Kehadiran ruhaniawan di kota-kota dan desa-desa adalah diantara penyebab tentramnya kehidupan masyarakat. Sebab masyarakat menjadikan tindak tanduk ruhaniawan itu sebagai contoh dalam kehidupan keseharian mereka."
"Nabi Muhammadd Saw, dalam mengajarkan Islam senantiasa dengan memberikan contoh dan tauladan. Dalam pengerjaan shalat dan manasik haji, nabi lebih dulu memberi contohnya kemudian mengajak orang-orang buat mengikutinya. Tidak sekedar mengajak dengan ucapan semata. Karenanya sudah semestinya kita menjadikan nabi saw dan aimmah as sebagai suri tauladan termasuk dalam metode mendakwahkan agama yang hak ini." Tambahnya.
Guru besar Hauzah Ilmiyah Qom Republik Islam Iran tersebut berkaitan dengan tugas dan amanah yang diemban kesatuan militer menyatakan, "Militerpun memiliki kewajiban yang sama, sebab tugasnya lebih berat. Dalam menjaga Negara dari ancaman musuh, tegaknya wilayatul faqih dan tetap terjaganya semangat revolusi Islam, militer juga harus menjadi suri tauladan dalam perkataan, sikap dan amal. Sebab tanpa keteladanan, musuh dapat dengan mudah melemahkan semangat revolusi dan merusak tatanan Negara."
Hadhrat Ayatullah Alawi Ghurgani kemudian menegaskan, rakyat dan pemerintah harus terus menjaga persatuan dan kebersamaan untuk menjaga jalannya revolusi. Beliau berkata, "Pihak anti revolusi bersama dengan musuh-musuh dari luar pada hakikatnya takut dengan keimanan dan keyakinan rakyat Iran terhadap ajaran Islam yang sedemikian kokoh dan kuat. Karena itu selain berusaha merusak tatanan Negara dengan menimbulkan kekacauan dan menebar terror mereka juga menghembuskan syubhat-syubhat untuk merusak keyakinan masyarakat."
Diakhir ceramahnya, ulama besar Iran ini menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi warga Syiah Sampang Indonesia yang masih terkatung-katung di pengungsian tanpa adanya ketegasan dari pemerintah mengenai nasib mereka kedepan. Namun beliau juga tetap menyatakan kesalutan dan rasa bangganya terhadap warga Syiah dipengungsian yang tetap tegar menjaga aqidah mereka, meskipun telah mendapat tekanan dan paksaan dari ulama setempat bahkan bantuan air minum dan dan makanan telah diputus untuk mereka sejak awal November.
Beliau mengatakan, "Kalau agama seseorang telah direbut musuh dari dirinya, maka apapun yang dimilikinya akan dengan mudah direbut pula. Namun jika seseorang mampu menjaga agamanya, apapun yang diperbuat musuh tidak bisa mencelakakannya."